Learn about the lessons to be learned

Minggu, 29 Juni 2014

Pelajaran Berharga Dari Ibu

15.46 Posted by FDA No comments
Waktu itu usia ku baru lima tahun, iya aku ingat sekali ketika itu setelah tayangan kartun Chibi Maruko Chan ada iklan produk boneka barbie terbaru. Kecantikan boneka itu membuatku merengek meminta dibelikan oleh ibu.
" Bu, beliin aku barbie yang itu dong ..."
Senyum ibu terlihat dari celah-celah jendela rumah yang memisahkan ruang menonton tv dan dapur. 
" Barbie yang kemarin kan masih ada, cantiknya gak kalah sama yang di tv.." ucapnya.
" Yang itu kepalanya cepat copot, beliin yang baru kek bu..." ucapku.
" Iya, sabar ya." ucapnya demikian.
Dua minggu kemudian hal yang aku minta belum dituruti olehnya. Aku pun merajuk.
" Bu, katanya mau beliin aku barbie yang itu, kok ibu belum beliin sih.."
" Iya sabar ya Nak, sementara itu main dulu aja sama barbie yang lain. "
" Tapi aku maunya yang itu..." ucapku tak mau kalah.
" Iya sabar dulu ya..."
Sebulan kemudian ketika aku sudah mengurungkan niatku untuk meminta dibelikan barbie baru, ibu datang menghampiriku dikamar dan menawarkan kejutan yang tak ku duga.
" Wah ibu akhirnya beliin aku yang ini.." senyum ku sumringah, demikian ibu.
" Maaf ya ibu baru sempat beliin sekarang, rawat baik-baik barbie yang ini." ucapnya, dan aku mengangguk.
Barbie baru yang aku dapatkan ku beri nama Selena, setiap hari sepulang sekolah aku selalu bermain bersamanya,menyisiri rambutnya yang panjang berwarna coklat, mengenalkannya kepada barbie yang lain seperti Shinta, Lydia, Lorena , Marta dan mengajak teman tk ku untuk bermain bersamanya juga haha..indah sekali masa kecil ku. 

***
Beberapa tahun kemudian saat usia ku sudah mulai memasuki angka delapan, aku kembali merengek pada ibu minta dibelikan sepeda yang baru.
" Bu, aku kan udah bisa naik sepeda, Teh Mira udah ajarin aku naik sepeda bu, kok aku belum dibeliin sepeda baru?" 
" Iya Nak, sabar dulu ya..."ucapnya.
Berkali-kali aku merengek minta padanya, namun ucapan yang sama tetap aku dengar.
" Iya Nak, sabar dulu ya..."
Selalu kalimat itu "sabar...sabar...dan sabar" permintaan yang aku minta tak selalu terkabul dengan cepat. 
Dua bulan aku menunggu, akhirnya ibu dan ayah mengabulkan permintaan ku. Sepeda baru berwarna merah, alangkah bahagianya diriku kala itu.

***
Tahun berlalu dan kini aku pun duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Bu aku kan gak mau dibeliin tas yang kaya gini..." ucapku meluapkan emosi ku.
" Ya habis ibu pikir kamu suka tas yang ini, kamu kan pernah bilang kalau kamu suka sama warna biru laut yaudah pas kemarin ibu lagi jalan ke mall terus gak sengaja ngeliat tas itu yaudah jadinya ibu beli"
" Iya aku emang suka warna biru laut tapi tas yang ibu beliin ini nih motif dan gayanya kuno banget bu, emang aku orang jaman dulu apa, mending ibu aja deh yang pake.." aku benar-benar emosi lalu ke lempar tas itu ke ranjang.
" Yaudah maafin ibu deh, sekarang pakai dulu tas yang ini untuk kesekolah atau gak untuk les, nanti ibu bellin yang baru, sabar ya.." katanya, aku mulai menunjukkan wajah murung.
" Yahhh ibu mahhh... !" 
" Sabar dulu deh, setidaknya kamu udah punya tas syukur alhamdulillah ibu masih punya rezeki buat beliin kamu.."
" Ibu tuh ya gak tahu, temen-teman aku dikelas tasnya bagus-bagus cuma aku doang yang tasnya biasa. Aku kan juga mau kaya mereka bu, jangan samain aku sama ibu, aku kan anak jaman sekarang, fashion sekarang sama jaman dulu tuh beda ! " amarah ku meluap-luap, namun ibu manusia super hebat itu tetap tersenyum, ia tidak balik membalas perkataan ku emosi orang berkepala empat itu tetap stabil, semantara aku meninggalkannya sendirian di kamar ku.

***
Belum sampai seminggu setelah kejadian tas itu, sesal ku timbul. Beribu pertanyaan menghampiri pikiran lalu membuat hati ku galau gulandah menerpa.
Kenapa aku pake acara marah segala sih sama ibu? Kenapa aku selalu bicara dengan nada keras sih sama ibu? Kenapa aku selalu meminta barang baru dengan merengek terus-terusan sama ibu? Kenapa aku gak pernah bisa bersyukur?
Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak menghiraukan pertanyaan itu, tetapi hati tak bisa dibohongi, rasanya tak bisa ku gambar kan seperti apa, intinya aku benar-benar menyesal telah melakukan hal yang kurang baik terhadap ibu, seburuk-buruknya perilaku ku namun ia sama sekali tidak pernah membalas, itu terlihat saat aku melintasi kamarnya. Ia masih setia menyebut nama ku dalam doanya, ia masih setia menengadahkan tangan menghadap kiblat untuk mendoakan aku anaknya. Seketika itu aku berpikir kalau aku memang anak durhaka, seribu rasa sesal mengahampiri ku dan kini air mata mengiringi kesesalan ku.

***
Yaa Raab, ternyata sekarang aku tahu mengapa Engkau melarang umat Mu untuk marah meluapkan amarahnya, aku tahu....iya kini aku tahu karena di setiap amarah yang keluar pasti akan mendatangkan seribu sesal dihati. 
Yaa Rahman, kini aku mengerti mengapa Engkau menyuruh manusia Mu untuk sabar, aku mengerti bahkan sangat mengerti bahwa kesabaran akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa di hati.
Yaa Malik, seharusnya aku tahu bahwa bersyukur adalah hal yang paling indah, anughrah masih diberikan nafas oleh Mu juga sudah sangat berarti dibandingkan apa pun
Yaa Rahim, terimakasih telah menitipkan ku kepada seorang wanita seperti dia, ampuni segala dosanya dan leburkan semua itu dengan pahala Mu karena ia telah mengajari ku pelajaran berharga di dunia ini, selalu bersyukur atas apa pun itu, selalu meminta maaf bila ada kesalahan kepada orang lain, dan selalu sabar dalam segala hal. Terimakasih Yaa Allah,
Aku benar-benar sadar bahwa kalimat "Sabar.." yang selalu ibu ucapkan mengandung sebuah pelajaran penting, ia berusaha menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak aku kecil. Terimakasih sekali Yaa Allah...

Terimaksih ibu atas segalanya, aku janji, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku ingin menjadi muslimah yang baik di pandangan Nya, sesama manusia lain dan tentunya di mata kalian (ayah ibu) 
Aamiin Allahum Aamiin


Sabtu, 14 Juni 2014

Aku Bukan Ikan Asin

04.11 Posted by FDA 1 comment
Dua bulan yang lalu aku sempat mengenal dia. Dipertemukan disalah satu kegiatan organisasi sekolah. Dia tipe orang yang manis dan berpenampilan rapih menyegarkan mata bila dilihat, belum lagi ia baik hati selalu sigap membantu orang tak terkecuali aku. Mungkin atas alasan demikian aku sempat menaruh hati padanya, tapi belum sempat hatiku ditaruh ke dalam bejana hatinya, kabar buruk datang menghancurkan segala pandangan indah ku terhadapnya.
" Kamu emang gak tau, dia kan udah punya pacar..."
" Ha? Pacar?" tanyaku memperjelas pada Nyera ketua Pramuka sekolah.
" Iya, malah sudah hampir seminggu pacarannya..."tegasnya. 
Mau dikata apa, aku juga manusia yang sama dianughrahi hati oleh Penguasa jagat raya semesta, kecewa sudah pasti ada, melupakan rasa itu adalah keputusan yang tepat. Butuh waktu lama ternyata untuk bisa menghapus perasaan itu. Di sisi lainnya aku benar-benar merasa bersalah karena sudah menyukai orang yang sudah punya orang. Oh ternyata aku ini bodoh !

***
Belum sampai sebulan, aku kembali mendengar berita buruk tentang dia.
" Kamu emang gak tau, dia kan baru aja putus sama pacarnya..."
" Ha? Putus?" tanyaku mempertegas kalimat ku.
" Iya, katanya mereka putus karena pacarnya dia terlalu egois, ya jadinya mereka putus..."ucap Nyera lagi saat kami selesai membersihkan ruang Pramuka sekolah kami.
Tuhan, aku tidak tahu apakah aku harus bahagia mendengar kabar ini, seharusnya aku memang bahagia karena itu berarti ada peluang besar untuk ku, tapi entah kenapa aku turut berduka mendengar itu.

***
Seminggu kemudian, aku sudah melihat dia berjalan menggandeng orang lain.
" Kamu emang gak tau, dia kan udah punya pacar baru..." 
" Ha? Pacar Baru?" Aku tercengang mendengar ucapan Nyera barusan.
" Iya, namanya Lara, mereka pacaran dua hari setelah dia putus dari pacar yang lama."
Semudah itu kah? hilang satu dapat satu, hilang lama datang baru. Lama-kelamaan aku menjadi tahu bagaimana tabiat dia yang asli. Tak heran jika seminggu kemudian Nyera kembali mengatakan hal yang sama padaku.
" Kamu emang gak tau, dia kan udah putus sama Lara..."
" Iya, aku tahu..."jawab ku tanpa penegasan dan tanpa mimik wajah heran.
Perlahan-lahan aku tahu benar kalau Tuhan sedang membuka pandangan mata ku secara lebar-lebar, perlahan aku tahu kalau Tuhan sedang memberitahu aku "kalau dia bukanlah orang yang baik untukku, kalau dia bukanlah orang baik seperti yang aku kira" dan perlahan-lahan rasa yang ku punya untuknya memudar bahkan hilang.

***
Seminggu kemudian, dia datang menemui ku diruang Pramuka ketika aku sedang tugas piket. Aku tak tahu apa sebabnya mengapa.
" Kamu itu semangat aku yang baru, sejak pertama kali melihat kamu aku udah jatuh cinta sama kamu, awalnya aku mau nyatain perasaan ini ke kamu tapi aku sadar waktu itu aku masih punya pacar dan gak mungkin kalau aku nyatain perasaan ini ke kamu yang nantinya akan membuat perasaan pacar aku sakit..." ucap dia, dan aku bengong.
Ini maksudnya apa? Sekarang aku yang jadi sasaran dia.
" Kamu tau setiap kali aku mikirin kamu, kamu itu orang terbaik yang pernah aku kenal...." ucapnya lagi dan kini aku mengerti dengan apa yang ia maksud. Aku diam mendengarkan dengan seksama pidatao-pidato dia yang basi bernada cinta.
"Kamu itu orang yang sempurna, dan tepat buat aku. Gak tau kenapa kalau aku lagi ada deket kamu bawaannya nyaman dan damai aja, kamu tuh laksana surga penyejuk hati ...." bla...bla...bla
"Kalau kamu besedia, aku boleh gak jadi orang yang selalu ada buat kamu..."katanya lagi
"Maksudnya?..." tanya ku.
" Aku cinta kamu.... kalau kamu memperbolehkan maukah kalau kita berhubungan yang lebih dari sekedar teman..." katanya, dan aku tertawa dalam hati, tersenyum penuh kesinisan.
Mau dikata apa, aku hanyalah orang bisa yang juga dianugrahkan hati oleh Penguasa jagat raya, semesta. Tak ada alasan bagi ku untuk menerimanya. Semua sudah aku katahui tentangnya, mempertahankan hubungan dengan yang "lama" saja tak bisa, berani-berani nya dia mencari yang baru, aku yakin jika ia sudah mendapatkan yang "baru" dan setelah itu bosan pasti yang "baru" juga akan mengalami nasib yang sama dengan yang "lama" hehe... 

***
Aku patut bersyukur karena memiliki Tuhan seperti Mu, yang telah memberitahu ku bahwa dia memang bukan orang yang baik untuk ku. Thanks so so much more Yaa Rabb !

***
Jangan kau pikir semua perempuan sama. Aku memang punya hati tapi tak semudah yang kau bayangkan untuk meraihnya. Jangan kau pikir gampang, aku beda dari yang lain ! bahkan aku tak mau dijadikan ikan asin seperti yang lain. Ikan murahan yang biasanya menarik perhatian kucing-kucing liar. Tidak aku bukan seperti mereka :)

Sabtu, 31 Mei 2014

Siapa Cepat (2)

03.51 Posted by FDA No comments
Cuaca hari itu sangat terik, semua para hewan berkumpul di kolam air sebrang padang rumput yang gersang hanya demi mandi atau bahkan meminum setengguk air kolam. Mereka bersuka cita karena Tuhan masih menganugrahkan sumber air ditengah kemarau yang menyengat. Panas yang dirasakan para hewan hilang seketika ketika kesejukan air itu menyentuh kulit mereka, namun hal demikian belum dirasakan si Kura-kura.

***
Kura-kura berjalan penuh semangat untuk sampai ke kolam air, tiba-tiba datanglah si kelinci dan kembali mengejeknya.
" Heh lelet, udah deh pasrah aja. Lo gak bakal nyampe ke kolam itu" katanya judes. Kelinci itu pun berlari meninggalkan kura-kura dengan langkah kakinya yang penuh kesombongan.
Kura-kura menghentikan langkahnya, ia terdiam memikirkan kembali ucapan yang barusan ia dengar. Sedih ! air matanya mulai menetes "apakah hanya aku makhluk paling lelet sedunia. Oh Tuhan memang tidak adil ! " keluhnya sesal. Namun ia tak patah arang, ia kembali bangkit untuk berjalan menuju sumber air itu walaupun keluhnya tak terhilangkan. 

Tiba-tiba dipertengahan jalan, ia bertemu dengan Lili si siput yang juga memiliki niat sama ingin pergi ke kolam air.
" Hai Lili kamu mau kemana?" tanya kura-kura.
" Hai kura-kura, aku mau kesana, ke sumber air itu" jawabnya.
Kura-kura menyadari ternyata di dunia ini ada makhluk yang lebih lamban jalannya dari dia, seketika itu ia berfikir bahwa ia salah besar telah menuduh Tuhan tidak adil. Melihat si Lili siput kelelahan berjalan, akhirnya ia dengan suka rela menawarkan tumpangan padanya.
" Hai Lili siput, naiklah ke atas tempurung ku agar kita bisa sama-sama sampai ke kolam itu."
Lili siput menunjukkan wajah sumringah, akhirnya ia menuruti perkataan kura-kura. Ia pun duduk diatas tempurung kura-kura.
"Terimakasih kura-kura" katanya.

***
Lima belas menit mereka berjalan tetapi belum sampai juga, dan di menit itulah mereka (kura-kura dan si Lili siput) bertemu dengan si lulu ulat bulu. Mereka berhenti dan menyapa ulat bulu itu.
" Hai Lulu si ulat bulu, mau kemana kamu?" tanya kura-kura.
" Aku mau kesana kura-kura, ke kolam air itu."
" Apa kamu mau berendam dan meminum air juga disana?" tanya Lili siput.
Lulu si ulat bulu menggeleng.
" Tidak. Aku ingin ke pohon. Pohon yang disamping kolam air itu." jelasnya dan mereka pun mengangguk.
" Mengapa mau ke pohon yang disana, bukankah pohon disini banyak?" tanya kura-kura lagi.
" Hei, apa kau tidak melihatnya ! pohon disini ranting semua karena kepanasan sinar matahari, lihatlah disebrang sana ada pohon yang lebih hijau. Aku ingin kesana, ditempat yang lebih sejuk itu." jelasnya.
Lalu karena kasihan, si kura-kura kembali menawarkan tumpangan pada Lulu si ulat bulu.
" Ayolah Lulu naik ke atas tempurung ku, aku dan Lili siput juga ingin ke sebrang sana." ucap kura-kura berbaik hati.
" Benarkah , oh aku sangat berterimakasih." lalu mereka bertiga pun bersama menuju kolam air itu.

***
Dalam perjalanan Lili si siput berbincang-bincang dengan Lulu si ulat bulu.
" Memangnya teman-temanmu yang lain kemana? Apakah mereka tidak ingin pergi kesana juga"
" Mereka sudah pergi kesana pada malam hari dan aku ditinggalkan sendirian." jawab Lulu.
" Kenapa perginya diwaktu malam hari?" 
" Karena mereka menghindari paparan sinar matahari yang terik.."ucapnya singkat.
" Dan mereka meninggalkan mu sendirian?" tanya Lili geram.
si Lulu ulat bulu kesal mendengar Lili si siput bertanya terus menerus.
" Hei bisakah kau hentikan pertanyaann mu, pegangan yang kuat. Kura-kura ini berlari dengan cepat...." ucapnya.

Mendengar itu Lili si siput dan kura-kura tertawa terbahak bahak. Kesedihan yang kura-kura alami karena ejekan si kelinci seketika hilang, terhibur karena kalimat dari si Lulu ulat bulu. Dalam tawanya ia berpikir ternyata ia memang salah besar telah berpikir kalau Tuhan tidak adil. Sejauh ini ia bersyukur karena ada makhluk di dunia ini yang jalannya paling lamban daripada ia dan Lili si siput. Kura-kura tidak lagi sedih, kecewa dan berkeluh kesah, ia kini bangkit kembali dan mencoba untuk tidak menghiraukan hewan lain yang mengejekknya.

Mereka pun berjalan bersama menuju sebrang dengan keceriaan, panas terik dan kelelahan tidak lagi kura-kura rasakan. Berbagi kebaikan dan kebahagiaan dengan hewan yang lainnya itu sudah lebih dari cukup, dan kalimat syukur tak henti-hentinya ia ucapkan kepada Tuhan.

Kamis, 29 Mei 2014

Siapa Cepat (1)

07.14 Posted by FDA No comments
" Heh kura-kura kenapa sih lo lelet banget kalau jalan ?" tanya kelinci saat mereka sedang berkumpul disebuah perkumpulan hewan.
" Ye siapa bilang..." jawab kura-kura singkat.
" Oh jadi selama ini lo gak sadar kalau lo tuh le to the let alias lelet." jelas kelinci sok gaul.
" Enggak..."jawabnya singkat lagi.
" Oke, kalau gitu kita lomba lari, kita buktiin siapa yang lebih lelet larinya." tantang kelinci.
" Oke, siapa takut."
" Oke, kalau gitu kita lomba lari cepet-cepetan sampai rumah, gimana?" tanya kelinci.
" Boleh..."
Lalu si kelinci dan kura-kura bersiap di garis star ketika mereka akan mulai berlari. Pak Bangau yang berperan sebagai juri pun memulai memberi aba-aba dengan berhitung maju.
" Satu....." ucap Pak Bangau dan kaki kelinci mulai maju satu langkah sedangkan pendangan mata kura-kura tajam kedepan.
" Dua...." Kelinci tersenyum licik, merasa yakin bisa memenangkan perlombaan tersebut, sementara kura-kura tersenyum penuh makna.
" Tiga........" Suara Pak Bangau meninggi, kelinci pun melangkah tinggi dan kura-kura diam sejenak sesaat demikian ia memasukan kaki dan tangannya ke dalam tempurung besar yang selalu ia bawa kemana-mana.
" Yak, pemenangnya ialah kura-kura..." ucap Pak Bangau membuat langkah kelinci terhenti.
" Apa...? ini tak adil Pak Bangau, tadi kan saya bilang siapa yang lebih dulu sampai rumah masing-masing dia lah yang menang..." komentar kelinci tak terima.
Ekspresi wajah Pak Bangau datar lalu melirik kearah tempurung kura-kura yang diam tak bergerak.
Dan kemudian kelinci pun juga menampakkan ekspresi wajah yang sama.

Rabu, 28 Mei 2014

Buku Punya Mu

02.37 Posted by FDA No comments
" Sekarang karena siapa?" tanya Mira. Air matanya tak kunjung berhenti. Mira memberikan waktu selama lima menit untuk Daniella menangis, ya hanya untuk menangis membuang air matanya untuk lelaki spesialis perayu itu, *oh sorry ralat bukan untuk lelaki tapi untuk "cowok bocah ingusan itu".
       
" Minggu lalu gara-gara si anu, kemarin gara-gara si inu, sekarang gara-gara siapa lagi?" tanya Mira berusaha mengeluarkan suara yang lembut, padahal sesungguhnya tak ada alasan untuknya bersikap demikian, sahabat mana sih yang tega melihat sahabatnya menangis hanya karena orang lain merobek perasaannya.
" Katanya hubungan kita selesai sampai sini, katanya dia mau fokus ke pelajaran, katanya aku ini terlalu sempurna dimata dia, katanya aku ini perempuan baik dan gak cocok buat dia." Daniella menghela nafas panjang.
" Bohong  ! " ucap Mira singkat.
" Maksudnya?"
" Itu alibi, kalau kamu perempuan baik dan gak cocok buat dia, kalau gitu kenapa di cocok-cocokin sejak awal. Kalau dia bilang kamu itu baik tapi nyatanya dia gak mau sama perempuan baik, itu tandanya ia menginginkan perempuan buruk. Ya kan?" kalimat Mira membuka pikiran Daniella.

" Iya. Kok tega ya....." lirihnya.
" Yaudah syukur alhamdulillah kamu udah gak ada hubungan lagi sama dia."
" Tapi kok tega, padahal aku masih sayang dia, tapi dia ....."
Mira menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu.
" Gak semua laki-laki seperti itu, yakin deh emang kamu nya aja lagi apes dapet orang yang kayak begitu."
" Kalau gitu aku mau tutup buku aja ah... udah titik." ucapnya ketika tangisannya sudah reda.
" Yak bagus ... ! "
" Aku gak boleh lemah hanya karena masalah ini." ucap Daniella berapi-api.
" Yak betul. Hidup Daniella.... kuat, kuat, jangan lembek kalau disenggol orang." ucap Mira memberikan spirit.

***
Dua minggu, setelah itu.
" Mir, aku mau cari buku lagi ah..." ucap Daniella mantap pada Mira saat mereka sedang duduk menikmati Mie ayam di kantin sekolah.
" Ha? " respon Mira meminta agar ucapan sahabatnya itu diperjelas lagi.
" Iya, aku mau move on. Aku mau mengganti buku yang lama dengan yang baru, membuka lembaran baru hidup, kali aja sekalinya dapet langsung jadi jodoh" senyum Daniella merekah, seakan sudah mengerti dengan kalimat sahabatnya itu Mira hanya bisa mengangguk.
" Oh. Oke carilah...carilah buku yang kau mau."

***
Dua minggu kemudian, hal yang sama terulang lagi.
"Sekarang karena siapa lagi? " tanya Mira sementara Daniella masih larut dalam tangisannya.
" Bener kan, makhluk itu memang kejam." dumelnya.
" Siapa? Apa dia bilang kamu ini perempuan baik juga? Apa dia bilang kamu terlalu sempurna juga? " Mira benar-benar geram, ingin sekali memaki orang yang telah membuat hati sahabatnya hancur seperti ini.
" Udah jangan nangis, sana cari buku baru lagi.." ucap Mira bermaksud ingin menghibur sahabatnya itu.
" Enggak ah, gak mau cari buku lagi. Cape tau" keluh Daniella dan kini air matanya sudah reda.
" Nah, akhirnya kamu sadar."
Mira tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan sahabatnya.
" Sadar? Maksudnya Mir?"
" Kamu sudah punya buku cantik "
Daniella bingung, dan menanyakan hal yang sama pada sahabatnya Mira.
" Aku udah punya buku ?"
" Iya, gak usah dicari-cari lagi. Kamu udah punya buku kok....cuma buku yang sekarang lagi kamu baca belum sampai di halaman mengenai jodoh, baru dihalaman mengenai rezeki, pendidikan dan  kesehatan. Jangan khawatir nanti pasti kamu sampai dihalaman itu kok." ucap Mira.

Daniella terdiam lalu menela'ah kembali kalimat sahabatnya itu. #thinksmart :)


Teka Teki Tak Terjawab

01.43 Posted by FDA No comments
Bel berbunyi tiga kali bertanda jam sekolah berakhir. Tepat pukul satu siang waktu Indonesia barat, semua siswa-siswi sekolah keluar kelas. Hari ini cuaca sangat bersahabat, raja siang pun masih terus menyelimuti seluruh alam dengan kehangatannya. Tepat di depan lab IPA seorang perempuan berdiri sembari memainkan handphone miliknya.
" Ra..." sapa seseorang lalu ia menoleh.
" Tara ! " serunya, senyuman manis menghiasi wajahnya yang berkeringat karena terik sinar matahari.
" Belum pulang?"  tanyanya dan perempuan itu mengeleng.
" Tadi rencananya aku mau pulang bareng Karina, tapi sampai sekarang Karina nya gak tau dimana, udah aku sms tapi belum dibalas." jelas perempuan bernama Rara dengan wajah lesu.
Tara tersenyum dan mengangguk mengerti akan kalimat yang barusan di ucapkan temannya itu.
" Karina masih di kantin, daripada nunggu lama mending pulang sama aku aja. Mau? " 
Mimpi indah di siang bolong, bunga-bunga pun seakan berjatuhan ke bawah.
" Loh, emangnya kamu lewatin jalan Juanda?" tanya Rara memastikan.
" Aku sih lewat mana aja bisa kok Ra.." dan akhirnya mereka pulang bersama, berjalan bersama menyusuri koridor sekolah yang berujung lapangan parkir. 
***
Bagaimana bisa seperti ini, pikir Rara. Selama ini ia tahu persis kalau dirinya menyukai Tara dan selama ini ia juga tahu kalau Tara lelaki yang kini berjalan bersamanya mengetahui dengan jelas bahwa ia menyukainya. Lelaki ini amat dingin, sama sekali tidak pernah berucap banyak ketika sedang bergaul. Dan kini lelaki itu dengan ramahnya menawarkan jasa untuk mengantarkannya pulang. 
Ada apa? begitu pikir Rara.
Bukankah kami layanknya air dan minyak yang tak pernah bisa bersatu, semenjak Tara mengetahui perasaan Rara yang sebenarnya. Perjalanan menuju lapangan parkir terasa amat lama. 
Rara masih bingung dengan kebaikan yang ditawarkan Tara kepadanya. Selama ini menyukainya adalah hal terletih, berkali-kali Rara memberikan sinyal baik pada lelaki itu tapi apa boleh dikata lelaki pendiam itu masih asik dengan kebisuannya dan tak menghiraukan keadaan sekitar. Pernah suatu saat Rara melihat Tara berjalan bedua dengan seorang perempuan dari kelas sebelah, ia tak tahu siapa nama perempuan itu, ia juga tidak tahu ada hubungan apa antara Tara dan perempuan itu yang ia tahu adalah suara sorak-sorai ledekan teman-teman sekelasnya ketika melihat Tara berjalan bersama perempuan itu. Adakah hubungan spesial antara keduanya? Entahlah, yang jelas suasana hatinya saat itu benar-benar hancur, bagikan disemprot air cabai, bagaikan terkena omelan Pak Tanto bila tidak mengerjakan pr Matematika, bagaikan turun dengan jets coaster, seperti itu rasanya. 
Lantas bila memang Tara memiliki hubungan spesaial dengan perempuan itu, kenapa ia dengan murah hatinya menawarkan tumpangan pulang untuk ku? pikir Rara mendramatisir. Ia masih diam memikirkan itu sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membangunkannya dari lamunan itu.
" Heiii.... pulang sama siapa?" tanya Dita.
"Bareng Tara" jawab Rara sambil menunjukkan telunjuknya kearah punggung Tara yang berjalan lebih dulu. Dita yang mengetahui kalau Rara sahabatnya itu menyukai Tara, tersenyum.
"Cie... ada yang lagi seneng kayanya." Rara tersenyum malu.
" Berutung banget bisa dianter pulang sama gebetannya, aku aja gak pernah dianter pulang sama gebeten." ucapnya dengan suara memelas.
" Aku tuh pulang sama dia karena kelamaan nunggu Karina tau " ucapnya singkat dan Dita mengangguk.
" Hmmm....kok Tara mau ajakin kamu pulang bareng ya? kan jarang-jarang dia bersikap terbuka kayak gitu. Apa jangan-jangan ....." 
" Jangan-jangan apa....?" 
" Jangan-jangan .........." ucap Dita terdengar seperti meledek.
Pikirannya terus mendramatisir dan bahkan sekarang lebih jauh. "Mengapa sih ia jadi baik gitu?" pikirnya. Oh mungkin aja Tara mau anterin aku pulang semata-mata karena kasihan melihat aku yang lemah tak berdaya yang tak punya teman pulang, atau mungkin ia ingin menyempatkan waktu untuk berduaan dengan ku dan setelah itu ia mengatakan juga mempunyai persaan yang sama dengan ku atau mungkin ia ingin menjelaskan bahwa ia memang ada hubungan spesial dengan perempuan kelas sebelah dan mengingatkan ku agar tidak menyukainya lagi. Semua rangkain kalimat perandai-andaian itu berterbangan di kepalanya, bak teka-teki yang susah ditebak.
***
Dari kejauhan terlihat Tara sudah menstater motornya, tetapi ada pemandangan aneh, Rara makin bingung. Dita yang berada disampingnya heran tak kala melihat Tara berjalan menghampiri dirinya dan Rara di gerbang pintu parkiran. 
" Ra, maaf ya kamu pulang sama Yanto aja. Kartu parkir ku ketinggalan di laci meja" katanya.
  Rara diam tak tahu harus membalas dengan kalimat apa.
" Tadi aku udah bilang kok ke Yanto kalau kamu mau pulang bareng dia." katanya lagi, sambil melemparkan pandangan kearah Yanto yang sedang siap-siap menyalahkan mesin kendaraan motornya di ujung sana.
Jlebbb ! Oh my God ! Siapa yang bodoh? seharusnya Tara meralat ucapannya dan memperbaikinya dengan berkata seperti ini :
“  Ra, maaf ya…. kartu parkiran ku kayanya ketinggalan di kelas. Kamu tunggu sebentar ya, aku mau ambil kartunya nanti kesini lagi. “ 
Kalau Tara mengatakan hal yang seperti itu, Rara pasti dengan setia akan menunggunya. 
" Oh iya gak papa kok Tara" ucapnya lesu dan terdengar amat miris menyayat hati. Lalu lelaki itu meninggalkan Rara berlari menuju kelas. Dita yang berada disamping Rara hanya bisa mengelus bahu sahabatnya itu.
" Yang sabar ya Ra..." ucapnya.
Tak lama kemudian Yanto menghampiri Rara dan Dita dengan motornya.
" Ra...pulang sama siapa jadinya?" tanyanya.
" Ya sama Yanto lah, orang niatnya mau sama Tara tapi....." ucapnya terputus.
" Ayo buruan naik " Rara pun mengikuti perintah Yanto sementara Dita sudah berlalu menuju tempat dimana motornya terparkir.


Jumat, 04 Oktober 2013

Be Strong .... Katanya mau kaya wonder woman :')

07.20 Posted by FDA No comments
              Kuat fad... kuat .... begitu ucapku dalam hati ketika tragedi itu terulang lagi.
            " Udahlah ibu gak bisa marah lagi " ucap wanita berkepala empat dihadapanku, aku pun tertunduk lesu menyadari betapa bodohnya diri ku ini, jatuh dilubang yang sama. 
Mau menangis, mau menyalahkan Allah dan kecewa, itulah yang aku rasakan. Bagaimana tidak, bulan lalu aku baru saja kehilangan teman mungil yang selalu menemani disetiap pekerjaanku, flashdisk putih milikku hilang entah kemana dan sekarang handphone mungil kesayanganku hilang entah kemana. 
Ini kenapa lagi Allah? rasanya aku sudah berhati-hati. Tapi ? 
               "Astaghfirulloh..... astaghfirulloh.... astaghfirulloh "
sekali lagi, mau marah, teriak, memaki Allah tapi semua itu tidaklah berguna.
             " Ikhlas Fad, namanya bukan rejeki. Belum berjodoh " makhluk kecil yang duduk dibahu kanan ku berkata demikian, lalu beban dihatiku berkurang sedikit karenanya.
           " Bagaimana bisa ikhlas, kamu kan sering mengamalkan sedikit uang sakumu pada kotak amal masjid, mana balasan baiknnya dari Dia, bukan balasan baik tapi malah nestapa yang didapat " makhluk kecil yang duduk dibahu kiri ku tak kalah ikut beragumen sombong.
Astaghfirullohhal adzim .... aku menghela nafas panjang. Siapa yang mau tragedi ini terulang lagi, sekalipun batinku tidak menginginkanya. Ini takdir Fad !

             " Fainnama'al usri yusro - sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan....."

Ikhlas, kok insyaAllah Ikhlas..... bukankah semua yang ada di bumi ini milik Allah sifatnya juga hanya sementara. Jadi gak perlu bersedih lagi Fadiaaaaaaa :) Ini kan bukan kejadian untuk yang pertama kalinya, ini sudah terulang selam lima kali, Seharusnya aku bisa lebih kuat menghadapinya, menikmati rasa kecewa, sakit hati dan kesal ternyata enak juga loh asalkan dilandaskan dengan rasa sabar dan pasrah. Terimakasih Allah, satu lagi nikmat hidup yang Engkau berikan pada ku, bukan hanya hidup untuk merasakan senang belaka tapi hidup dalam perasaan duka seperti ini. Sebesar apa pun cobaannya, aku hanya minta diberikan kekuatan untuk dapat menghadapinya dengan dewasa, berikanlah kekuatan Mu sedikit saja, agar aku bisa lebih tegar tanpa pernah mengeluh ataupun berburuk sangka terhadapMu.......

Please, Always to be with Me Allah