Learn about the lessons to be learned

Minggu, 29 Juni 2014

Pelajaran Berharga Dari Ibu

15.46 Posted by FDA No comments
Waktu itu usia ku baru lima tahun, iya aku ingat sekali ketika itu setelah tayangan kartun Chibi Maruko Chan ada iklan produk boneka barbie terbaru. Kecantikan boneka itu membuatku merengek meminta dibelikan oleh ibu.
" Bu, beliin aku barbie yang itu dong ..."
Senyum ibu terlihat dari celah-celah jendela rumah yang memisahkan ruang menonton tv dan dapur. 
" Barbie yang kemarin kan masih ada, cantiknya gak kalah sama yang di tv.." ucapnya.
" Yang itu kepalanya cepat copot, beliin yang baru kek bu..." ucapku.
" Iya, sabar ya." ucapnya demikian.
Dua minggu kemudian hal yang aku minta belum dituruti olehnya. Aku pun merajuk.
" Bu, katanya mau beliin aku barbie yang itu, kok ibu belum beliin sih.."
" Iya sabar ya Nak, sementara itu main dulu aja sama barbie yang lain. "
" Tapi aku maunya yang itu..." ucapku tak mau kalah.
" Iya sabar dulu ya..."
Sebulan kemudian ketika aku sudah mengurungkan niatku untuk meminta dibelikan barbie baru, ibu datang menghampiriku dikamar dan menawarkan kejutan yang tak ku duga.
" Wah ibu akhirnya beliin aku yang ini.." senyum ku sumringah, demikian ibu.
" Maaf ya ibu baru sempat beliin sekarang, rawat baik-baik barbie yang ini." ucapnya, dan aku mengangguk.
Barbie baru yang aku dapatkan ku beri nama Selena, setiap hari sepulang sekolah aku selalu bermain bersamanya,menyisiri rambutnya yang panjang berwarna coklat, mengenalkannya kepada barbie yang lain seperti Shinta, Lydia, Lorena , Marta dan mengajak teman tk ku untuk bermain bersamanya juga haha..indah sekali masa kecil ku. 

***
Beberapa tahun kemudian saat usia ku sudah mulai memasuki angka delapan, aku kembali merengek pada ibu minta dibelikan sepeda yang baru.
" Bu, aku kan udah bisa naik sepeda, Teh Mira udah ajarin aku naik sepeda bu, kok aku belum dibeliin sepeda baru?" 
" Iya Nak, sabar dulu ya..."ucapnya.
Berkali-kali aku merengek minta padanya, namun ucapan yang sama tetap aku dengar.
" Iya Nak, sabar dulu ya..."
Selalu kalimat itu "sabar...sabar...dan sabar" permintaan yang aku minta tak selalu terkabul dengan cepat. 
Dua bulan aku menunggu, akhirnya ibu dan ayah mengabulkan permintaan ku. Sepeda baru berwarna merah, alangkah bahagianya diriku kala itu.

***
Tahun berlalu dan kini aku pun duduk di bangku sekolah menengah atas.
"Bu aku kan gak mau dibeliin tas yang kaya gini..." ucapku meluapkan emosi ku.
" Ya habis ibu pikir kamu suka tas yang ini, kamu kan pernah bilang kalau kamu suka sama warna biru laut yaudah pas kemarin ibu lagi jalan ke mall terus gak sengaja ngeliat tas itu yaudah jadinya ibu beli"
" Iya aku emang suka warna biru laut tapi tas yang ibu beliin ini nih motif dan gayanya kuno banget bu, emang aku orang jaman dulu apa, mending ibu aja deh yang pake.." aku benar-benar emosi lalu ke lempar tas itu ke ranjang.
" Yaudah maafin ibu deh, sekarang pakai dulu tas yang ini untuk kesekolah atau gak untuk les, nanti ibu bellin yang baru, sabar ya.." katanya, aku mulai menunjukkan wajah murung.
" Yahhh ibu mahhh... !" 
" Sabar dulu deh, setidaknya kamu udah punya tas syukur alhamdulillah ibu masih punya rezeki buat beliin kamu.."
" Ibu tuh ya gak tahu, temen-teman aku dikelas tasnya bagus-bagus cuma aku doang yang tasnya biasa. Aku kan juga mau kaya mereka bu, jangan samain aku sama ibu, aku kan anak jaman sekarang, fashion sekarang sama jaman dulu tuh beda ! " amarah ku meluap-luap, namun ibu manusia super hebat itu tetap tersenyum, ia tidak balik membalas perkataan ku emosi orang berkepala empat itu tetap stabil, semantara aku meninggalkannya sendirian di kamar ku.

***
Belum sampai seminggu setelah kejadian tas itu, sesal ku timbul. Beribu pertanyaan menghampiri pikiran lalu membuat hati ku galau gulandah menerpa.
Kenapa aku pake acara marah segala sih sama ibu? Kenapa aku selalu bicara dengan nada keras sih sama ibu? Kenapa aku selalu meminta barang baru dengan merengek terus-terusan sama ibu? Kenapa aku gak pernah bisa bersyukur?
Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak menghiraukan pertanyaan itu, tetapi hati tak bisa dibohongi, rasanya tak bisa ku gambar kan seperti apa, intinya aku benar-benar menyesal telah melakukan hal yang kurang baik terhadap ibu, seburuk-buruknya perilaku ku namun ia sama sekali tidak pernah membalas, itu terlihat saat aku melintasi kamarnya. Ia masih setia menyebut nama ku dalam doanya, ia masih setia menengadahkan tangan menghadap kiblat untuk mendoakan aku anaknya. Seketika itu aku berpikir kalau aku memang anak durhaka, seribu rasa sesal mengahampiri ku dan kini air mata mengiringi kesesalan ku.

***
Yaa Raab, ternyata sekarang aku tahu mengapa Engkau melarang umat Mu untuk marah meluapkan amarahnya, aku tahu....iya kini aku tahu karena di setiap amarah yang keluar pasti akan mendatangkan seribu sesal dihati. 
Yaa Rahman, kini aku mengerti mengapa Engkau menyuruh manusia Mu untuk sabar, aku mengerti bahkan sangat mengerti bahwa kesabaran akan mendatangkan kenikmatan yang luar biasa di hati.
Yaa Malik, seharusnya aku tahu bahwa bersyukur adalah hal yang paling indah, anughrah masih diberikan nafas oleh Mu juga sudah sangat berarti dibandingkan apa pun
Yaa Rahim, terimakasih telah menitipkan ku kepada seorang wanita seperti dia, ampuni segala dosanya dan leburkan semua itu dengan pahala Mu karena ia telah mengajari ku pelajaran berharga di dunia ini, selalu bersyukur atas apa pun itu, selalu meminta maaf bila ada kesalahan kepada orang lain, dan selalu sabar dalam segala hal. Terimakasih Yaa Allah,
Aku benar-benar sadar bahwa kalimat "Sabar.." yang selalu ibu ucapkan mengandung sebuah pelajaran penting, ia berusaha menanamkan nilai-nilai kehidupan sejak aku kecil. Terimakasih sekali Yaa Allah...

Terimaksih ibu atas segalanya, aku janji, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku ingin menjadi muslimah yang baik di pandangan Nya, sesama manusia lain dan tentunya di mata kalian (ayah ibu) 
Aamiin Allahum Aamiin


Sabtu, 14 Juni 2014

Aku Bukan Ikan Asin

04.11 Posted by FDA 1 comment
Dua bulan yang lalu aku sempat mengenal dia. Dipertemukan disalah satu kegiatan organisasi sekolah. Dia tipe orang yang manis dan berpenampilan rapih menyegarkan mata bila dilihat, belum lagi ia baik hati selalu sigap membantu orang tak terkecuali aku. Mungkin atas alasan demikian aku sempat menaruh hati padanya, tapi belum sempat hatiku ditaruh ke dalam bejana hatinya, kabar buruk datang menghancurkan segala pandangan indah ku terhadapnya.
" Kamu emang gak tau, dia kan udah punya pacar..."
" Ha? Pacar?" tanyaku memperjelas pada Nyera ketua Pramuka sekolah.
" Iya, malah sudah hampir seminggu pacarannya..."tegasnya. 
Mau dikata apa, aku juga manusia yang sama dianughrahi hati oleh Penguasa jagat raya semesta, kecewa sudah pasti ada, melupakan rasa itu adalah keputusan yang tepat. Butuh waktu lama ternyata untuk bisa menghapus perasaan itu. Di sisi lainnya aku benar-benar merasa bersalah karena sudah menyukai orang yang sudah punya orang. Oh ternyata aku ini bodoh !

***
Belum sampai sebulan, aku kembali mendengar berita buruk tentang dia.
" Kamu emang gak tau, dia kan baru aja putus sama pacarnya..."
" Ha? Putus?" tanyaku mempertegas kalimat ku.
" Iya, katanya mereka putus karena pacarnya dia terlalu egois, ya jadinya mereka putus..."ucap Nyera lagi saat kami selesai membersihkan ruang Pramuka sekolah kami.
Tuhan, aku tidak tahu apakah aku harus bahagia mendengar kabar ini, seharusnya aku memang bahagia karena itu berarti ada peluang besar untuk ku, tapi entah kenapa aku turut berduka mendengar itu.

***
Seminggu kemudian, aku sudah melihat dia berjalan menggandeng orang lain.
" Kamu emang gak tau, dia kan udah punya pacar baru..." 
" Ha? Pacar Baru?" Aku tercengang mendengar ucapan Nyera barusan.
" Iya, namanya Lara, mereka pacaran dua hari setelah dia putus dari pacar yang lama."
Semudah itu kah? hilang satu dapat satu, hilang lama datang baru. Lama-kelamaan aku menjadi tahu bagaimana tabiat dia yang asli. Tak heran jika seminggu kemudian Nyera kembali mengatakan hal yang sama padaku.
" Kamu emang gak tau, dia kan udah putus sama Lara..."
" Iya, aku tahu..."jawab ku tanpa penegasan dan tanpa mimik wajah heran.
Perlahan-lahan aku tahu benar kalau Tuhan sedang membuka pandangan mata ku secara lebar-lebar, perlahan aku tahu kalau Tuhan sedang memberitahu aku "kalau dia bukanlah orang yang baik untukku, kalau dia bukanlah orang baik seperti yang aku kira" dan perlahan-lahan rasa yang ku punya untuknya memudar bahkan hilang.

***
Seminggu kemudian, dia datang menemui ku diruang Pramuka ketika aku sedang tugas piket. Aku tak tahu apa sebabnya mengapa.
" Kamu itu semangat aku yang baru, sejak pertama kali melihat kamu aku udah jatuh cinta sama kamu, awalnya aku mau nyatain perasaan ini ke kamu tapi aku sadar waktu itu aku masih punya pacar dan gak mungkin kalau aku nyatain perasaan ini ke kamu yang nantinya akan membuat perasaan pacar aku sakit..." ucap dia, dan aku bengong.
Ini maksudnya apa? Sekarang aku yang jadi sasaran dia.
" Kamu tau setiap kali aku mikirin kamu, kamu itu orang terbaik yang pernah aku kenal...." ucapnya lagi dan kini aku mengerti dengan apa yang ia maksud. Aku diam mendengarkan dengan seksama pidatao-pidato dia yang basi bernada cinta.
"Kamu itu orang yang sempurna, dan tepat buat aku. Gak tau kenapa kalau aku lagi ada deket kamu bawaannya nyaman dan damai aja, kamu tuh laksana surga penyejuk hati ...." bla...bla...bla
"Kalau kamu besedia, aku boleh gak jadi orang yang selalu ada buat kamu..."katanya lagi
"Maksudnya?..." tanya ku.
" Aku cinta kamu.... kalau kamu memperbolehkan maukah kalau kita berhubungan yang lebih dari sekedar teman..." katanya, dan aku tertawa dalam hati, tersenyum penuh kesinisan.
Mau dikata apa, aku hanyalah orang bisa yang juga dianugrahkan hati oleh Penguasa jagat raya, semesta. Tak ada alasan bagi ku untuk menerimanya. Semua sudah aku katahui tentangnya, mempertahankan hubungan dengan yang "lama" saja tak bisa, berani-berani nya dia mencari yang baru, aku yakin jika ia sudah mendapatkan yang "baru" dan setelah itu bosan pasti yang "baru" juga akan mengalami nasib yang sama dengan yang "lama" hehe... 

***
Aku patut bersyukur karena memiliki Tuhan seperti Mu, yang telah memberitahu ku bahwa dia memang bukan orang yang baik untuk ku. Thanks so so much more Yaa Rabb !

***
Jangan kau pikir semua perempuan sama. Aku memang punya hati tapi tak semudah yang kau bayangkan untuk meraihnya. Jangan kau pikir gampang, aku beda dari yang lain ! bahkan aku tak mau dijadikan ikan asin seperti yang lain. Ikan murahan yang biasanya menarik perhatian kucing-kucing liar. Tidak aku bukan seperti mereka :)