Waktu itu usia ku baru lima tahun, iya aku ingat sekali ketika itu
setelah tayangan kartun Chibi Maruko Chan ada iklan produk boneka barbie
terbaru. Kecantikan boneka itu membuatku merengek meminta dibelikan oleh ibu.
" Bu, beliin aku barbie yang itu dong ..."
Senyum ibu terlihat dari celah-celah jendela rumah yang memisahkan
ruang menonton tv dan dapur.
" Barbie yang kemarin kan masih ada, cantiknya gak kalah sama
yang di tv.." ucapnya.
" Yang itu kepalanya cepat copot, beliin yang baru kek
bu..." ucapku.
" Iya, sabar ya." ucapnya demikian.
Dua minggu kemudian hal yang aku minta belum dituruti olehnya. Aku
pun merajuk.
" Bu, katanya mau beliin aku barbie yang itu, kok ibu belum
beliin sih.."
" Iya sabar ya Nak, sementara itu main dulu aja sama barbie
yang lain. "
" Tapi aku maunya yang itu..." ucapku tak mau kalah.
" Iya sabar dulu ya..."
Sebulan kemudian ketika aku sudah mengurungkan niatku untuk
meminta dibelikan barbie baru, ibu datang menghampiriku dikamar dan menawarkan
kejutan yang tak ku duga.
" Wah ibu akhirnya beliin aku yang ini.." senyum ku
sumringah, demikian ibu.
" Maaf ya ibu baru sempat beliin sekarang, rawat baik-baik
barbie yang ini." ucapnya, dan aku mengangguk.
Barbie baru yang aku dapatkan ku beri nama Selena, setiap hari
sepulang sekolah aku selalu bermain bersamanya,menyisiri rambutnya yang panjang
berwarna coklat, mengenalkannya kepada barbie yang lain seperti Shinta, Lydia,
Lorena , Marta dan mengajak teman tk ku untuk bermain bersamanya juga
haha..indah sekali masa kecil ku.
***
Beberapa tahun kemudian saat usia ku sudah mulai memasuki angka
delapan, aku kembali merengek pada ibu minta dibelikan sepeda yang baru.
" Bu, aku kan udah bisa naik sepeda, Teh Mira udah ajarin aku
naik sepeda bu, kok aku belum dibeliin sepeda baru?"
" Iya Nak, sabar dulu ya..."ucapnya.
Berkali-kali aku merengek minta padanya, namun ucapan yang sama
tetap aku dengar.
" Iya Nak, sabar dulu ya..."
Selalu kalimat itu "sabar...sabar...dan sabar"
permintaan yang aku minta tak selalu terkabul dengan cepat.
Dua bulan aku menunggu, akhirnya ibu dan ayah mengabulkan
permintaan ku. Sepeda baru berwarna merah, alangkah bahagianya diriku kala itu.
***
Tahun berlalu dan kini aku pun duduk di bangku sekolah menengah
atas.
"Bu aku kan gak mau dibeliin tas yang kaya gini..."
ucapku meluapkan emosi ku.
" Ya habis ibu pikir kamu suka tas yang ini, kamu kan pernah
bilang kalau kamu suka sama warna biru laut yaudah pas kemarin ibu lagi jalan
ke mall terus gak sengaja ngeliat tas itu yaudah jadinya ibu beli"
" Iya aku emang suka warna biru laut tapi tas yang ibu beliin
ini nih motif dan gayanya kuno banget bu, emang aku orang jaman dulu apa,
mending ibu aja deh yang pake.." aku benar-benar emosi lalu ke lempar tas
itu ke ranjang.
" Yaudah maafin ibu deh, sekarang pakai dulu tas yang ini
untuk kesekolah atau gak untuk les, nanti ibu bellin yang baru, sabar
ya.." katanya, aku mulai menunjukkan wajah murung.
" Yahhh ibu mahhh... !"
" Sabar dulu deh, setidaknya kamu udah punya tas syukur
alhamdulillah ibu masih punya rezeki buat beliin kamu.."
" Ibu tuh ya gak tahu, temen-teman aku dikelas tasnya
bagus-bagus cuma aku doang yang tasnya biasa. Aku kan juga mau kaya mereka bu,
jangan samain aku sama ibu, aku kan anak jaman sekarang, fashion sekarang sama
jaman dulu tuh beda ! " amarah ku meluap-luap, namun ibu manusia super
hebat itu tetap tersenyum, ia tidak balik membalas perkataan ku emosi orang
berkepala empat itu tetap stabil, semantara aku meninggalkannya sendirian di
kamar ku.
***
Belum sampai seminggu setelah kejadian tas itu, sesal ku timbul.
Beribu pertanyaan menghampiri pikiran lalu membuat hati ku galau gulandah
menerpa.
Kenapa aku pake acara marah segala sih sama ibu? Kenapa aku selalu
bicara dengan nada keras sih sama ibu? Kenapa aku selalu meminta barang baru dengan
merengek terus-terusan sama ibu? Kenapa aku gak pernah bisa bersyukur?
Aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak menghiraukan pertanyaan
itu, tetapi hati tak bisa dibohongi, rasanya tak bisa ku gambar kan seperti
apa, intinya aku benar-benar menyesal telah melakukan hal yang kurang baik
terhadap ibu, seburuk-buruknya perilaku ku namun ia sama sekali tidak pernah
membalas, itu terlihat saat aku melintasi kamarnya. Ia masih setia menyebut
nama ku dalam doanya, ia masih setia menengadahkan tangan menghadap kiblat
untuk mendoakan aku anaknya. Seketika itu aku berpikir kalau aku memang anak
durhaka, seribu rasa sesal mengahampiri ku dan kini air mata mengiringi
kesesalan ku.
***
Yaa Raab, ternyata sekarang aku tahu mengapa Engkau melarang umat Mu untuk marah meluapkan amarahnya, aku tahu....iya kini aku tahu karena di setiap amarah yang keluar pasti akan mendatangkan seribu sesal dihati.
Yaa Raab, ternyata sekarang aku tahu mengapa Engkau melarang umat Mu untuk marah meluapkan amarahnya, aku tahu....iya kini aku tahu karena di setiap amarah yang keluar pasti akan mendatangkan seribu sesal dihati.
Yaa Rahman, kini aku mengerti mengapa Engkau menyuruh manusia Mu
untuk sabar, aku mengerti bahkan sangat mengerti bahwa kesabaran akan
mendatangkan kenikmatan yang luar biasa di hati.
Yaa Malik, seharusnya aku tahu bahwa bersyukur adalah hal yang
paling indah, anughrah masih diberikan nafas oleh Mu juga sudah sangat berarti
dibandingkan apa pun
Yaa Rahim, terimakasih telah menitipkan ku kepada seorang wanita
seperti dia, ampuni segala dosanya dan leburkan semua itu dengan pahala Mu
karena ia telah mengajari ku pelajaran berharga di dunia ini, selalu bersyukur
atas apa pun itu, selalu meminta maaf bila ada kesalahan kepada orang lain, dan
selalu sabar dalam segala hal. Terimakasih Yaa Allah,
Aku benar-benar sadar bahwa kalimat "Sabar.." yang
selalu ibu ucapkan mengandung sebuah pelajaran penting, ia berusaha menanamkan
nilai-nilai kehidupan sejak aku kecil. Terimakasih sekali Yaa Allah...
Terimaksih ibu atas segalanya, aku janji, aku janji tidak akan
mengulanginya lagi. Aku ingin menjadi muslimah yang baik di pandangan Nya,
sesama manusia lain dan tentunya di mata kalian (ayah ibu)
Aamiin Allahum Aamiin