Cuaca hari itu sangat terik, semua para hewan berkumpul di kolam air sebrang padang rumput yang gersang hanya demi mandi atau bahkan meminum setengguk air kolam. Mereka bersuka cita karena Tuhan masih menganugrahkan sumber air ditengah kemarau yang menyengat. Panas yang dirasakan para hewan hilang seketika ketika kesejukan air itu menyentuh kulit mereka, namun hal demikian belum dirasakan si Kura-kura.
***
Kura-kura berjalan penuh semangat untuk sampai ke kolam air, tiba-tiba datanglah si kelinci dan kembali mengejeknya.
" Heh lelet, udah deh pasrah aja. Lo gak bakal nyampe ke kolam itu" katanya judes. Kelinci itu pun berlari meninggalkan kura-kura dengan langkah kakinya yang penuh kesombongan.
Kura-kura menghentikan langkahnya, ia terdiam memikirkan kembali ucapan yang barusan ia dengar. Sedih ! air matanya mulai menetes "apakah hanya aku makhluk paling lelet sedunia. Oh Tuhan memang tidak adil ! " keluhnya sesal. Namun ia tak patah arang, ia kembali bangkit untuk berjalan menuju sumber air itu walaupun keluhnya tak terhilangkan.
Tiba-tiba dipertengahan jalan, ia bertemu dengan Lili si siput yang juga memiliki niat sama ingin pergi ke kolam air.
" Hai Lili kamu mau kemana?" tanya kura-kura.
" Hai kura-kura, aku mau kesana, ke sumber air itu" jawabnya.
Kura-kura menyadari ternyata di dunia ini ada makhluk yang lebih lamban jalannya dari dia, seketika itu ia berfikir bahwa ia salah besar telah menuduh Tuhan tidak adil. Melihat si Lili siput kelelahan berjalan, akhirnya ia dengan suka rela menawarkan tumpangan padanya.
" Hai Lili siput, naiklah ke atas tempurung ku agar kita bisa sama-sama sampai ke kolam itu."
Lili siput menunjukkan wajah sumringah, akhirnya ia menuruti perkataan kura-kura. Ia pun duduk diatas tempurung kura-kura.
"Terimakasih kura-kura" katanya.
***
Lima belas menit mereka berjalan tetapi belum sampai juga, dan di menit itulah mereka (kura-kura dan si Lili siput) bertemu dengan si lulu ulat bulu. Mereka berhenti dan menyapa ulat bulu itu.
" Hai Lulu si ulat bulu, mau kemana kamu?" tanya kura-kura.
" Aku mau kesana kura-kura, ke kolam air itu."
" Apa kamu mau berendam dan meminum air juga disana?" tanya Lili siput.
Lulu si ulat bulu menggeleng.
" Tidak. Aku ingin ke pohon. Pohon yang disamping kolam air itu." jelasnya dan mereka pun mengangguk.
" Mengapa mau ke pohon yang disana, bukankah pohon disini banyak?" tanya kura-kura lagi.
" Hei, apa kau tidak melihatnya ! pohon disini ranting semua karena kepanasan sinar matahari, lihatlah disebrang sana ada pohon yang lebih hijau. Aku ingin kesana, ditempat yang lebih sejuk itu." jelasnya.
Lalu karena kasihan, si kura-kura kembali menawarkan tumpangan pada Lulu si ulat bulu.
" Ayolah Lulu naik ke atas tempurung ku, aku dan Lili siput juga ingin ke sebrang sana." ucap kura-kura berbaik hati.
" Benarkah , oh aku sangat berterimakasih." lalu mereka bertiga pun bersama menuju kolam air itu.
***
Dalam perjalanan Lili si siput berbincang-bincang dengan Lulu si ulat bulu.
" Memangnya teman-temanmu yang lain kemana? Apakah mereka tidak ingin pergi kesana juga"
" Mereka sudah pergi kesana pada malam hari dan aku ditinggalkan sendirian." jawab Lulu.
" Kenapa perginya diwaktu malam hari?"
" Karena mereka menghindari paparan sinar matahari yang terik.."ucapnya singkat.
" Dan mereka meninggalkan mu sendirian?" tanya Lili geram.
si Lulu ulat bulu kesal mendengar Lili si siput bertanya terus menerus.
" Hei bisakah kau hentikan pertanyaann mu, pegangan yang kuat. Kura-kura ini berlari dengan cepat...." ucapnya.
Mendengar itu Lili si siput dan kura-kura tertawa terbahak bahak. Kesedihan yang kura-kura alami karena ejekan si kelinci seketika hilang, terhibur karena kalimat dari si Lulu ulat bulu. Dalam tawanya ia berpikir ternyata ia memang salah besar telah berpikir kalau Tuhan tidak adil. Sejauh ini ia bersyukur karena ada makhluk di dunia ini yang jalannya paling lamban daripada ia dan Lili si siput. Kura-kura tidak lagi sedih, kecewa dan berkeluh kesah, ia kini bangkit kembali dan mencoba untuk tidak menghiraukan hewan lain yang mengejekknya.
Mereka pun berjalan bersama menuju sebrang dengan keceriaan, panas terik dan kelelahan tidak lagi kura-kura rasakan. Berbagi kebaikan dan kebahagiaan dengan hewan yang lainnya itu sudah lebih dari cukup, dan kalimat syukur tak henti-hentinya ia ucapkan kepada Tuhan.