Learn about the lessons to be learned

Sabtu, 31 Mei 2014

Siapa Cepat (2)

03.51 Posted by FDA No comments
Cuaca hari itu sangat terik, semua para hewan berkumpul di kolam air sebrang padang rumput yang gersang hanya demi mandi atau bahkan meminum setengguk air kolam. Mereka bersuka cita karena Tuhan masih menganugrahkan sumber air ditengah kemarau yang menyengat. Panas yang dirasakan para hewan hilang seketika ketika kesejukan air itu menyentuh kulit mereka, namun hal demikian belum dirasakan si Kura-kura.

***
Kura-kura berjalan penuh semangat untuk sampai ke kolam air, tiba-tiba datanglah si kelinci dan kembali mengejeknya.
" Heh lelet, udah deh pasrah aja. Lo gak bakal nyampe ke kolam itu" katanya judes. Kelinci itu pun berlari meninggalkan kura-kura dengan langkah kakinya yang penuh kesombongan.
Kura-kura menghentikan langkahnya, ia terdiam memikirkan kembali ucapan yang barusan ia dengar. Sedih ! air matanya mulai menetes "apakah hanya aku makhluk paling lelet sedunia. Oh Tuhan memang tidak adil ! " keluhnya sesal. Namun ia tak patah arang, ia kembali bangkit untuk berjalan menuju sumber air itu walaupun keluhnya tak terhilangkan. 

Tiba-tiba dipertengahan jalan, ia bertemu dengan Lili si siput yang juga memiliki niat sama ingin pergi ke kolam air.
" Hai Lili kamu mau kemana?" tanya kura-kura.
" Hai kura-kura, aku mau kesana, ke sumber air itu" jawabnya.
Kura-kura menyadari ternyata di dunia ini ada makhluk yang lebih lamban jalannya dari dia, seketika itu ia berfikir bahwa ia salah besar telah menuduh Tuhan tidak adil. Melihat si Lili siput kelelahan berjalan, akhirnya ia dengan suka rela menawarkan tumpangan padanya.
" Hai Lili siput, naiklah ke atas tempurung ku agar kita bisa sama-sama sampai ke kolam itu."
Lili siput menunjukkan wajah sumringah, akhirnya ia menuruti perkataan kura-kura. Ia pun duduk diatas tempurung kura-kura.
"Terimakasih kura-kura" katanya.

***
Lima belas menit mereka berjalan tetapi belum sampai juga, dan di menit itulah mereka (kura-kura dan si Lili siput) bertemu dengan si lulu ulat bulu. Mereka berhenti dan menyapa ulat bulu itu.
" Hai Lulu si ulat bulu, mau kemana kamu?" tanya kura-kura.
" Aku mau kesana kura-kura, ke kolam air itu."
" Apa kamu mau berendam dan meminum air juga disana?" tanya Lili siput.
Lulu si ulat bulu menggeleng.
" Tidak. Aku ingin ke pohon. Pohon yang disamping kolam air itu." jelasnya dan mereka pun mengangguk.
" Mengapa mau ke pohon yang disana, bukankah pohon disini banyak?" tanya kura-kura lagi.
" Hei, apa kau tidak melihatnya ! pohon disini ranting semua karena kepanasan sinar matahari, lihatlah disebrang sana ada pohon yang lebih hijau. Aku ingin kesana, ditempat yang lebih sejuk itu." jelasnya.
Lalu karena kasihan, si kura-kura kembali menawarkan tumpangan pada Lulu si ulat bulu.
" Ayolah Lulu naik ke atas tempurung ku, aku dan Lili siput juga ingin ke sebrang sana." ucap kura-kura berbaik hati.
" Benarkah , oh aku sangat berterimakasih." lalu mereka bertiga pun bersama menuju kolam air itu.

***
Dalam perjalanan Lili si siput berbincang-bincang dengan Lulu si ulat bulu.
" Memangnya teman-temanmu yang lain kemana? Apakah mereka tidak ingin pergi kesana juga"
" Mereka sudah pergi kesana pada malam hari dan aku ditinggalkan sendirian." jawab Lulu.
" Kenapa perginya diwaktu malam hari?" 
" Karena mereka menghindari paparan sinar matahari yang terik.."ucapnya singkat.
" Dan mereka meninggalkan mu sendirian?" tanya Lili geram.
si Lulu ulat bulu kesal mendengar Lili si siput bertanya terus menerus.
" Hei bisakah kau hentikan pertanyaann mu, pegangan yang kuat. Kura-kura ini berlari dengan cepat...." ucapnya.

Mendengar itu Lili si siput dan kura-kura tertawa terbahak bahak. Kesedihan yang kura-kura alami karena ejekan si kelinci seketika hilang, terhibur karena kalimat dari si Lulu ulat bulu. Dalam tawanya ia berpikir ternyata ia memang salah besar telah berpikir kalau Tuhan tidak adil. Sejauh ini ia bersyukur karena ada makhluk di dunia ini yang jalannya paling lamban daripada ia dan Lili si siput. Kura-kura tidak lagi sedih, kecewa dan berkeluh kesah, ia kini bangkit kembali dan mencoba untuk tidak menghiraukan hewan lain yang mengejekknya.

Mereka pun berjalan bersama menuju sebrang dengan keceriaan, panas terik dan kelelahan tidak lagi kura-kura rasakan. Berbagi kebaikan dan kebahagiaan dengan hewan yang lainnya itu sudah lebih dari cukup, dan kalimat syukur tak henti-hentinya ia ucapkan kepada Tuhan.

Kamis, 29 Mei 2014

Siapa Cepat (1)

07.14 Posted by FDA No comments
" Heh kura-kura kenapa sih lo lelet banget kalau jalan ?" tanya kelinci saat mereka sedang berkumpul disebuah perkumpulan hewan.
" Ye siapa bilang..." jawab kura-kura singkat.
" Oh jadi selama ini lo gak sadar kalau lo tuh le to the let alias lelet." jelas kelinci sok gaul.
" Enggak..."jawabnya singkat lagi.
" Oke, kalau gitu kita lomba lari, kita buktiin siapa yang lebih lelet larinya." tantang kelinci.
" Oke, siapa takut."
" Oke, kalau gitu kita lomba lari cepet-cepetan sampai rumah, gimana?" tanya kelinci.
" Boleh..."
Lalu si kelinci dan kura-kura bersiap di garis star ketika mereka akan mulai berlari. Pak Bangau yang berperan sebagai juri pun memulai memberi aba-aba dengan berhitung maju.
" Satu....." ucap Pak Bangau dan kaki kelinci mulai maju satu langkah sedangkan pendangan mata kura-kura tajam kedepan.
" Dua...." Kelinci tersenyum licik, merasa yakin bisa memenangkan perlombaan tersebut, sementara kura-kura tersenyum penuh makna.
" Tiga........" Suara Pak Bangau meninggi, kelinci pun melangkah tinggi dan kura-kura diam sejenak sesaat demikian ia memasukan kaki dan tangannya ke dalam tempurung besar yang selalu ia bawa kemana-mana.
" Yak, pemenangnya ialah kura-kura..." ucap Pak Bangau membuat langkah kelinci terhenti.
" Apa...? ini tak adil Pak Bangau, tadi kan saya bilang siapa yang lebih dulu sampai rumah masing-masing dia lah yang menang..." komentar kelinci tak terima.
Ekspresi wajah Pak Bangau datar lalu melirik kearah tempurung kura-kura yang diam tak bergerak.
Dan kemudian kelinci pun juga menampakkan ekspresi wajah yang sama.

Rabu, 28 Mei 2014

Buku Punya Mu

02.37 Posted by FDA No comments
" Sekarang karena siapa?" tanya Mira. Air matanya tak kunjung berhenti. Mira memberikan waktu selama lima menit untuk Daniella menangis, ya hanya untuk menangis membuang air matanya untuk lelaki spesialis perayu itu, *oh sorry ralat bukan untuk lelaki tapi untuk "cowok bocah ingusan itu".
       
" Minggu lalu gara-gara si anu, kemarin gara-gara si inu, sekarang gara-gara siapa lagi?" tanya Mira berusaha mengeluarkan suara yang lembut, padahal sesungguhnya tak ada alasan untuknya bersikap demikian, sahabat mana sih yang tega melihat sahabatnya menangis hanya karena orang lain merobek perasaannya.
" Katanya hubungan kita selesai sampai sini, katanya dia mau fokus ke pelajaran, katanya aku ini terlalu sempurna dimata dia, katanya aku ini perempuan baik dan gak cocok buat dia." Daniella menghela nafas panjang.
" Bohong  ! " ucap Mira singkat.
" Maksudnya?"
" Itu alibi, kalau kamu perempuan baik dan gak cocok buat dia, kalau gitu kenapa di cocok-cocokin sejak awal. Kalau dia bilang kamu itu baik tapi nyatanya dia gak mau sama perempuan baik, itu tandanya ia menginginkan perempuan buruk. Ya kan?" kalimat Mira membuka pikiran Daniella.

" Iya. Kok tega ya....." lirihnya.
" Yaudah syukur alhamdulillah kamu udah gak ada hubungan lagi sama dia."
" Tapi kok tega, padahal aku masih sayang dia, tapi dia ....."
Mira menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu.
" Gak semua laki-laki seperti itu, yakin deh emang kamu nya aja lagi apes dapet orang yang kayak begitu."
" Kalau gitu aku mau tutup buku aja ah... udah titik." ucapnya ketika tangisannya sudah reda.
" Yak bagus ... ! "
" Aku gak boleh lemah hanya karena masalah ini." ucap Daniella berapi-api.
" Yak betul. Hidup Daniella.... kuat, kuat, jangan lembek kalau disenggol orang." ucap Mira memberikan spirit.

***
Dua minggu, setelah itu.
" Mir, aku mau cari buku lagi ah..." ucap Daniella mantap pada Mira saat mereka sedang duduk menikmati Mie ayam di kantin sekolah.
" Ha? " respon Mira meminta agar ucapan sahabatnya itu diperjelas lagi.
" Iya, aku mau move on. Aku mau mengganti buku yang lama dengan yang baru, membuka lembaran baru hidup, kali aja sekalinya dapet langsung jadi jodoh" senyum Daniella merekah, seakan sudah mengerti dengan kalimat sahabatnya itu Mira hanya bisa mengangguk.
" Oh. Oke carilah...carilah buku yang kau mau."

***
Dua minggu kemudian, hal yang sama terulang lagi.
"Sekarang karena siapa lagi? " tanya Mira sementara Daniella masih larut dalam tangisannya.
" Bener kan, makhluk itu memang kejam." dumelnya.
" Siapa? Apa dia bilang kamu ini perempuan baik juga? Apa dia bilang kamu terlalu sempurna juga? " Mira benar-benar geram, ingin sekali memaki orang yang telah membuat hati sahabatnya hancur seperti ini.
" Udah jangan nangis, sana cari buku baru lagi.." ucap Mira bermaksud ingin menghibur sahabatnya itu.
" Enggak ah, gak mau cari buku lagi. Cape tau" keluh Daniella dan kini air matanya sudah reda.
" Nah, akhirnya kamu sadar."
Mira tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan sahabatnya.
" Sadar? Maksudnya Mir?"
" Kamu sudah punya buku cantik "
Daniella bingung, dan menanyakan hal yang sama pada sahabatnya Mira.
" Aku udah punya buku ?"
" Iya, gak usah dicari-cari lagi. Kamu udah punya buku kok....cuma buku yang sekarang lagi kamu baca belum sampai di halaman mengenai jodoh, baru dihalaman mengenai rezeki, pendidikan dan  kesehatan. Jangan khawatir nanti pasti kamu sampai dihalaman itu kok." ucap Mira.

Daniella terdiam lalu menela'ah kembali kalimat sahabatnya itu. #thinksmart :)


Teka Teki Tak Terjawab

01.43 Posted by FDA No comments
Bel berbunyi tiga kali bertanda jam sekolah berakhir. Tepat pukul satu siang waktu Indonesia barat, semua siswa-siswi sekolah keluar kelas. Hari ini cuaca sangat bersahabat, raja siang pun masih terus menyelimuti seluruh alam dengan kehangatannya. Tepat di depan lab IPA seorang perempuan berdiri sembari memainkan handphone miliknya.
" Ra..." sapa seseorang lalu ia menoleh.
" Tara ! " serunya, senyuman manis menghiasi wajahnya yang berkeringat karena terik sinar matahari.
" Belum pulang?"  tanyanya dan perempuan itu mengeleng.
" Tadi rencananya aku mau pulang bareng Karina, tapi sampai sekarang Karina nya gak tau dimana, udah aku sms tapi belum dibalas." jelas perempuan bernama Rara dengan wajah lesu.
Tara tersenyum dan mengangguk mengerti akan kalimat yang barusan di ucapkan temannya itu.
" Karina masih di kantin, daripada nunggu lama mending pulang sama aku aja. Mau? " 
Mimpi indah di siang bolong, bunga-bunga pun seakan berjatuhan ke bawah.
" Loh, emangnya kamu lewatin jalan Juanda?" tanya Rara memastikan.
" Aku sih lewat mana aja bisa kok Ra.." dan akhirnya mereka pulang bersama, berjalan bersama menyusuri koridor sekolah yang berujung lapangan parkir. 
***
Bagaimana bisa seperti ini, pikir Rara. Selama ini ia tahu persis kalau dirinya menyukai Tara dan selama ini ia juga tahu kalau Tara lelaki yang kini berjalan bersamanya mengetahui dengan jelas bahwa ia menyukainya. Lelaki ini amat dingin, sama sekali tidak pernah berucap banyak ketika sedang bergaul. Dan kini lelaki itu dengan ramahnya menawarkan jasa untuk mengantarkannya pulang. 
Ada apa? begitu pikir Rara.
Bukankah kami layanknya air dan minyak yang tak pernah bisa bersatu, semenjak Tara mengetahui perasaan Rara yang sebenarnya. Perjalanan menuju lapangan parkir terasa amat lama. 
Rara masih bingung dengan kebaikan yang ditawarkan Tara kepadanya. Selama ini menyukainya adalah hal terletih, berkali-kali Rara memberikan sinyal baik pada lelaki itu tapi apa boleh dikata lelaki pendiam itu masih asik dengan kebisuannya dan tak menghiraukan keadaan sekitar. Pernah suatu saat Rara melihat Tara berjalan bedua dengan seorang perempuan dari kelas sebelah, ia tak tahu siapa nama perempuan itu, ia juga tidak tahu ada hubungan apa antara Tara dan perempuan itu yang ia tahu adalah suara sorak-sorai ledekan teman-teman sekelasnya ketika melihat Tara berjalan bersama perempuan itu. Adakah hubungan spesial antara keduanya? Entahlah, yang jelas suasana hatinya saat itu benar-benar hancur, bagikan disemprot air cabai, bagaikan terkena omelan Pak Tanto bila tidak mengerjakan pr Matematika, bagaikan turun dengan jets coaster, seperti itu rasanya. 
Lantas bila memang Tara memiliki hubungan spesaial dengan perempuan itu, kenapa ia dengan murah hatinya menawarkan tumpangan pulang untuk ku? pikir Rara mendramatisir. Ia masih diam memikirkan itu sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membangunkannya dari lamunan itu.
" Heiii.... pulang sama siapa?" tanya Dita.
"Bareng Tara" jawab Rara sambil menunjukkan telunjuknya kearah punggung Tara yang berjalan lebih dulu. Dita yang mengetahui kalau Rara sahabatnya itu menyukai Tara, tersenyum.
"Cie... ada yang lagi seneng kayanya." Rara tersenyum malu.
" Berutung banget bisa dianter pulang sama gebetannya, aku aja gak pernah dianter pulang sama gebeten." ucapnya dengan suara memelas.
" Aku tuh pulang sama dia karena kelamaan nunggu Karina tau " ucapnya singkat dan Dita mengangguk.
" Hmmm....kok Tara mau ajakin kamu pulang bareng ya? kan jarang-jarang dia bersikap terbuka kayak gitu. Apa jangan-jangan ....." 
" Jangan-jangan apa....?" 
" Jangan-jangan .........." ucap Dita terdengar seperti meledek.
Pikirannya terus mendramatisir dan bahkan sekarang lebih jauh. "Mengapa sih ia jadi baik gitu?" pikirnya. Oh mungkin aja Tara mau anterin aku pulang semata-mata karena kasihan melihat aku yang lemah tak berdaya yang tak punya teman pulang, atau mungkin ia ingin menyempatkan waktu untuk berduaan dengan ku dan setelah itu ia mengatakan juga mempunyai persaan yang sama dengan ku atau mungkin ia ingin menjelaskan bahwa ia memang ada hubungan spesial dengan perempuan kelas sebelah dan mengingatkan ku agar tidak menyukainya lagi. Semua rangkain kalimat perandai-andaian itu berterbangan di kepalanya, bak teka-teki yang susah ditebak.
***
Dari kejauhan terlihat Tara sudah menstater motornya, tetapi ada pemandangan aneh, Rara makin bingung. Dita yang berada disampingnya heran tak kala melihat Tara berjalan menghampiri dirinya dan Rara di gerbang pintu parkiran. 
" Ra, maaf ya kamu pulang sama Yanto aja. Kartu parkir ku ketinggalan di laci meja" katanya.
  Rara diam tak tahu harus membalas dengan kalimat apa.
" Tadi aku udah bilang kok ke Yanto kalau kamu mau pulang bareng dia." katanya lagi, sambil melemparkan pandangan kearah Yanto yang sedang siap-siap menyalahkan mesin kendaraan motornya di ujung sana.
Jlebbb ! Oh my God ! Siapa yang bodoh? seharusnya Tara meralat ucapannya dan memperbaikinya dengan berkata seperti ini :
“  Ra, maaf ya…. kartu parkiran ku kayanya ketinggalan di kelas. Kamu tunggu sebentar ya, aku mau ambil kartunya nanti kesini lagi. “ 
Kalau Tara mengatakan hal yang seperti itu, Rara pasti dengan setia akan menunggunya. 
" Oh iya gak papa kok Tara" ucapnya lesu dan terdengar amat miris menyayat hati. Lalu lelaki itu meninggalkan Rara berlari menuju kelas. Dita yang berada disamping Rara hanya bisa mengelus bahu sahabatnya itu.
" Yang sabar ya Ra..." ucapnya.
Tak lama kemudian Yanto menghampiri Rara dan Dita dengan motornya.
" Ra...pulang sama siapa jadinya?" tanyanya.
" Ya sama Yanto lah, orang niatnya mau sama Tara tapi....." ucapnya terputus.
" Ayo buruan naik " Rara pun mengikuti perintah Yanto sementara Dita sudah berlalu menuju tempat dimana motornya terparkir.