Bel berbunyi tiga kali bertanda jam sekolah berakhir. Tepat
pukul satu siang waktu
Indonesia barat, semua siswa-siswi sekolah keluar kelas. Hari ini cuaca sangat
bersahabat, raja siang pun masih terus menyelimuti seluruh alam dengan
kehangatannya. Tepat di depan lab IPA seorang perempuan berdiri sembari
memainkan handphone miliknya.
" Ra..." sapa seseorang lalu ia menoleh.
" Tara ! " serunya, senyuman manis menghiasi wajahnya
yang berkeringat karena terik sinar matahari.
" Belum pulang?" tanyanya dan perempuan itu
mengeleng.
" Tadi rencananya aku mau pulang bareng Karina, tapi sampai
sekarang Karina nya gak tau dimana, udah aku sms tapi belum dibalas."
jelas perempuan bernama Rara dengan wajah lesu.
Tara tersenyum dan mengangguk mengerti akan kalimat yang barusan
di ucapkan temannya itu.
" Karina masih di kantin, daripada nunggu lama mending
pulang sama aku aja. Mau? "
Mimpi indah di siang bolong, bunga-bunga pun seakan berjatuhan
ke bawah.
" Loh, emangnya kamu lewatin jalan Juanda?" tanya Rara memastikan.
" Aku sih lewat mana aja bisa kok Ra.." dan akhirnya
mereka pulang bersama, berjalan bersama menyusuri koridor sekolah yang berujung
lapangan parkir.
***
Bagaimana bisa seperti ini, pikir Rara. Selama ini ia tahu
persis kalau dirinya menyukai Tara dan selama ini ia juga tahu kalau Tara
lelaki yang kini berjalan bersamanya mengetahui dengan jelas bahwa ia
menyukainya. Lelaki ini amat dingin, sama sekali tidak pernah berucap banyak
ketika sedang bergaul. Dan kini lelaki itu dengan ramahnya menawarkan jasa
untuk mengantarkannya pulang.
Ada apa? begitu pikir Rara.
Bukankah kami layanknya air dan minyak yang tak pernah bisa
bersatu, semenjak Tara mengetahui
perasaan Rara yang sebenarnya. Perjalanan menuju lapangan parkir terasa amat
lama.
Rara masih bingung dengan kebaikan yang ditawarkan Tara
kepadanya. Selama ini menyukainya adalah hal terletih, berkali-kali Rara
memberikan sinyal baik pada lelaki itu tapi apa boleh dikata lelaki pendiam itu
masih asik dengan kebisuannya dan tak menghiraukan keadaan sekitar. Pernah
suatu saat Rara melihat Tara berjalan bedua dengan seorang perempuan dari kelas
sebelah, ia tak tahu siapa nama perempuan itu, ia juga tidak tahu ada hubungan
apa antara Tara dan perempuan itu yang ia tahu adalah suara sorak-sorai ledekan
teman-teman sekelasnya ketika melihat Tara berjalan bersama perempuan itu.
Adakah hubungan spesial antara keduanya? Entahlah, yang jelas suasana hatinya
saat itu benar-benar hancur, bagikan disemprot air cabai, bagaikan terkena
omelan Pak Tanto bila tidak mengerjakan pr Matematika, bagaikan turun
dengan jets coaster, seperti itu rasanya.
Lantas bila memang Tara memiliki hubungan spesaial dengan
perempuan itu, kenapa ia dengan murah hatinya menawarkan tumpangan pulang untuk
ku? pikir Rara mendramatisir. Ia masih diam memikirkan itu sampai seseorang
menepuk pundaknya dari belakang, membangunkannya dari lamunan itu.
" Heiii.... pulang sama siapa?" tanya Dita.
"Bareng Tara" jawab Rara sambil menunjukkan telunjuknya
kearah punggung Tara yang berjalan lebih dulu. Dita yang mengetahui kalau Rara
sahabatnya itu menyukai Tara, tersenyum.
"Cie... ada yang lagi seneng kayanya." Rara tersenyum
malu.
" Berutung banget bisa dianter pulang sama gebetannya, aku
aja gak pernah dianter pulang sama gebeten." ucapnya dengan suara memelas.
" Aku tuh pulang sama dia karena kelamaan nunggu Karina tau
" ucapnya singkat dan Dita mengangguk.
" Hmmm....kok Tara mau ajakin kamu pulang bareng ya? kan
jarang-jarang dia bersikap terbuka kayak gitu. Apa jangan-jangan
....."
" Jangan-jangan apa....?"
" Jangan-jangan .........." ucap Dita terdengar
seperti meledek.
Pikirannya terus mendramatisir dan bahkan sekarang lebih jauh.
"Mengapa sih ia jadi baik gitu?" pikirnya. Oh mungkin aja
Tara mau anterin aku pulang semata-mata karena kasihan melihat aku yang lemah
tak berdaya yang tak punya teman pulang, atau mungkin ia ingin menyempatkan
waktu untuk berduaan dengan ku dan setelah itu ia mengatakan juga mempunyai
persaan yang sama dengan ku atau mungkin ia ingin menjelaskan bahwa ia memang
ada hubungan spesial dengan perempuan kelas sebelah dan mengingatkan ku agar
tidak menyukainya lagi. Semua
rangkain kalimat perandai-andaian itu berterbangan di kepalanya, bak teka-teki
yang susah ditebak.
***
Dari kejauhan terlihat Tara sudah menstater motornya, tetapi
ada pemandangan aneh, Rara makin bingung. Dita yang berada disampingnya heran
tak kala melihat Tara berjalan menghampiri dirinya dan Rara di gerbang pintu
parkiran.
" Ra, maaf ya kamu pulang sama Yanto aja. Kartu parkir ku
ketinggalan di laci meja" katanya.
Rara diam tak tahu harus membalas dengan kalimat apa.
Rara diam tak tahu harus membalas dengan kalimat apa.
" Tadi aku udah bilang kok ke Yanto kalau kamu mau pulang
bareng dia." katanya lagi, sambil melemparkan pandangan kearah Yanto
yang sedang siap-siap menyalahkan mesin kendaraan motornya di ujung sana.
Jlebbb ! Oh my God ! Siapa yang bodoh? seharusnya Tara meralat
ucapannya dan memperbaikinya dengan berkata seperti ini :
“ Ra, maaf ya…. kartu
parkiran ku kayanya ketinggalan di kelas. Kamu tunggu sebentar ya, aku mau ambil kartunya nanti kesini lagi.
“
Kalau Tara mengatakan hal yang seperti itu, Rara pasti dengan setia akan menunggunya.
Kalau Tara mengatakan hal yang seperti itu, Rara pasti dengan setia akan menunggunya.
" Oh iya gak papa kok Tara" ucapnya lesu dan terdengar
amat miris menyayat hati. Lalu lelaki itu meninggalkan Rara berlari menuju
kelas. Dita yang berada disamping Rara hanya bisa mengelus bahu sahabatnya itu.
" Yang sabar ya Ra..." ucapnya.
Tak lama kemudian Yanto menghampiri Rara dan Dita dengan
motornya.
" Ra...pulang sama siapa jadinya?" tanyanya.
" Ya sama Yanto lah, orang niatnya mau sama Tara
tapi....." ucapnya terputus.
" Ayo buruan naik " Rara pun mengikuti perintah Yanto
sementara Dita sudah berlalu menuju tempat dimana motornya terparkir.
0 komentar:
Posting Komentar