Learn about the lessons to be learned

Rabu, 28 Mei 2014

Teka Teki Tak Terjawab

01.43 Posted by FDA No comments
Bel berbunyi tiga kali bertanda jam sekolah berakhir. Tepat pukul satu siang waktu Indonesia barat, semua siswa-siswi sekolah keluar kelas. Hari ini cuaca sangat bersahabat, raja siang pun masih terus menyelimuti seluruh alam dengan kehangatannya. Tepat di depan lab IPA seorang perempuan berdiri sembari memainkan handphone miliknya.
" Ra..." sapa seseorang lalu ia menoleh.
" Tara ! " serunya, senyuman manis menghiasi wajahnya yang berkeringat karena terik sinar matahari.
" Belum pulang?"  tanyanya dan perempuan itu mengeleng.
" Tadi rencananya aku mau pulang bareng Karina, tapi sampai sekarang Karina nya gak tau dimana, udah aku sms tapi belum dibalas." jelas perempuan bernama Rara dengan wajah lesu.
Tara tersenyum dan mengangguk mengerti akan kalimat yang barusan di ucapkan temannya itu.
" Karina masih di kantin, daripada nunggu lama mending pulang sama aku aja. Mau? " 
Mimpi indah di siang bolong, bunga-bunga pun seakan berjatuhan ke bawah.
" Loh, emangnya kamu lewatin jalan Juanda?" tanya Rara memastikan.
" Aku sih lewat mana aja bisa kok Ra.." dan akhirnya mereka pulang bersama, berjalan bersama menyusuri koridor sekolah yang berujung lapangan parkir. 
***
Bagaimana bisa seperti ini, pikir Rara. Selama ini ia tahu persis kalau dirinya menyukai Tara dan selama ini ia juga tahu kalau Tara lelaki yang kini berjalan bersamanya mengetahui dengan jelas bahwa ia menyukainya. Lelaki ini amat dingin, sama sekali tidak pernah berucap banyak ketika sedang bergaul. Dan kini lelaki itu dengan ramahnya menawarkan jasa untuk mengantarkannya pulang. 
Ada apa? begitu pikir Rara.
Bukankah kami layanknya air dan minyak yang tak pernah bisa bersatu, semenjak Tara mengetahui perasaan Rara yang sebenarnya. Perjalanan menuju lapangan parkir terasa amat lama. 
Rara masih bingung dengan kebaikan yang ditawarkan Tara kepadanya. Selama ini menyukainya adalah hal terletih, berkali-kali Rara memberikan sinyal baik pada lelaki itu tapi apa boleh dikata lelaki pendiam itu masih asik dengan kebisuannya dan tak menghiraukan keadaan sekitar. Pernah suatu saat Rara melihat Tara berjalan bedua dengan seorang perempuan dari kelas sebelah, ia tak tahu siapa nama perempuan itu, ia juga tidak tahu ada hubungan apa antara Tara dan perempuan itu yang ia tahu adalah suara sorak-sorai ledekan teman-teman sekelasnya ketika melihat Tara berjalan bersama perempuan itu. Adakah hubungan spesial antara keduanya? Entahlah, yang jelas suasana hatinya saat itu benar-benar hancur, bagikan disemprot air cabai, bagaikan terkena omelan Pak Tanto bila tidak mengerjakan pr Matematika, bagaikan turun dengan jets coaster, seperti itu rasanya. 
Lantas bila memang Tara memiliki hubungan spesaial dengan perempuan itu, kenapa ia dengan murah hatinya menawarkan tumpangan pulang untuk ku? pikir Rara mendramatisir. Ia masih diam memikirkan itu sampai seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membangunkannya dari lamunan itu.
" Heiii.... pulang sama siapa?" tanya Dita.
"Bareng Tara" jawab Rara sambil menunjukkan telunjuknya kearah punggung Tara yang berjalan lebih dulu. Dita yang mengetahui kalau Rara sahabatnya itu menyukai Tara, tersenyum.
"Cie... ada yang lagi seneng kayanya." Rara tersenyum malu.
" Berutung banget bisa dianter pulang sama gebetannya, aku aja gak pernah dianter pulang sama gebeten." ucapnya dengan suara memelas.
" Aku tuh pulang sama dia karena kelamaan nunggu Karina tau " ucapnya singkat dan Dita mengangguk.
" Hmmm....kok Tara mau ajakin kamu pulang bareng ya? kan jarang-jarang dia bersikap terbuka kayak gitu. Apa jangan-jangan ....." 
" Jangan-jangan apa....?" 
" Jangan-jangan .........." ucap Dita terdengar seperti meledek.
Pikirannya terus mendramatisir dan bahkan sekarang lebih jauh. "Mengapa sih ia jadi baik gitu?" pikirnya. Oh mungkin aja Tara mau anterin aku pulang semata-mata karena kasihan melihat aku yang lemah tak berdaya yang tak punya teman pulang, atau mungkin ia ingin menyempatkan waktu untuk berduaan dengan ku dan setelah itu ia mengatakan juga mempunyai persaan yang sama dengan ku atau mungkin ia ingin menjelaskan bahwa ia memang ada hubungan spesial dengan perempuan kelas sebelah dan mengingatkan ku agar tidak menyukainya lagi. Semua rangkain kalimat perandai-andaian itu berterbangan di kepalanya, bak teka-teki yang susah ditebak.
***
Dari kejauhan terlihat Tara sudah menstater motornya, tetapi ada pemandangan aneh, Rara makin bingung. Dita yang berada disampingnya heran tak kala melihat Tara berjalan menghampiri dirinya dan Rara di gerbang pintu parkiran. 
" Ra, maaf ya kamu pulang sama Yanto aja. Kartu parkir ku ketinggalan di laci meja" katanya.
  Rara diam tak tahu harus membalas dengan kalimat apa.
" Tadi aku udah bilang kok ke Yanto kalau kamu mau pulang bareng dia." katanya lagi, sambil melemparkan pandangan kearah Yanto yang sedang siap-siap menyalahkan mesin kendaraan motornya di ujung sana.
Jlebbb ! Oh my God ! Siapa yang bodoh? seharusnya Tara meralat ucapannya dan memperbaikinya dengan berkata seperti ini :
“  Ra, maaf ya…. kartu parkiran ku kayanya ketinggalan di kelas. Kamu tunggu sebentar ya, aku mau ambil kartunya nanti kesini lagi. “ 
Kalau Tara mengatakan hal yang seperti itu, Rara pasti dengan setia akan menunggunya. 
" Oh iya gak papa kok Tara" ucapnya lesu dan terdengar amat miris menyayat hati. Lalu lelaki itu meninggalkan Rara berlari menuju kelas. Dita yang berada disamping Rara hanya bisa mengelus bahu sahabatnya itu.
" Yang sabar ya Ra..." ucapnya.
Tak lama kemudian Yanto menghampiri Rara dan Dita dengan motornya.
" Ra...pulang sama siapa jadinya?" tanyanya.
" Ya sama Yanto lah, orang niatnya mau sama Tara tapi....." ucapnya terputus.
" Ayo buruan naik " Rara pun mengikuti perintah Yanto sementara Dita sudah berlalu menuju tempat dimana motornya terparkir.


0 komentar:

Posting Komentar